Selasa, 22 Juli 2014

Catatan Penyair Keder



BIDADARIKU

karena dia candu untukku
biar murah tetaplah nikmat
karena api tak lagi setia pada jalurnya
tanpamu
karenamu bidadari
diri tak bersuara

RACUN
Top of Form

racun itu amatlah ampuh
ratusan tahun negeri ini lumpuh
sejarah kelam
terselip dalam ungkapan
bukan
bukan
bukan
dia bukan pahlawan kesiangan
dia korban fitnah belaka

PENDAKIAN HIDUP

Top of Form
nyalakan terus lilin
yang ada dalam jiwamu
dimanapun berada
janganlah api lilin itu
hanya menerangi jiwamu saja
tapi terangi seluruh jiwa-jiwa
yang ada didekatmu.
mari sama-sama kita setubuhi
panggung-panggung kehidupan
kesusahan adalah kehidupan
dan kesenangan adalah kematian.
negeri tak berpenghuni
selagi ada matahari
kehidupan akan terus berjalan
Top of Form
Pendakian tak pernah selesai
dari satu episode ke episode lainnya
panas terik mentari menemani
rembulan terangi malam
bintang berpijar menyelimuti
hamparan bebatuan terjal jadi teman sejati
langit
gunung
dan lautan artistik kehidupan
DEVIDE AT IMPERETop of Form


resep ( racun ) yang amat ampuh
ratusan tahun negri ini lumpuh
sejarah kelam
bukan pahlawan kesiangan
fitnah
Biadap
pembalasan jadi santapan

PILU

Top of Form
kopiku habis tinggal ampas
duitku ludes dilahap kenyataan
tenagaku terkuras sembilu
pikiranku menerawang terbawa angan
kakiku lumpuh terbentur sendu
pilu

Top of Form
NEMBIR

Disimpang jalan otakku terantuk batu
Batu yang mengantuk menyandung kaki ku
Batu itu pun pecah
Memporak-porandakan ubun-ubun kepalaku
Pecahannya terbang terhempas angan
Menukik sambangi samudra lautan fatamorgana
Menunggu diri keluar dari kebenaran
Dirundung duka berkepanjangan
Bahagia dalam berduka
Duka mendalam
Berubah menjadi bebatuan
Wujud dari keberadaan dan ketiadaan
Bebatuan terjal terhampar
Disetiap sudut ruang bawah sadarku
Keterjalan pemikiran menghantui
Menang di kedepankan
Jauh beda dengan ruang sudut kegelapan
Buntu tak tahu kemana harus melangkah
Kakiku lumpuh tak dapat menopang isi kepalaku

Top of Form
NYANYIAN HIDUP

kekuatan pikiran menundukkan dunia
pikiran selalu dapat menjadi solusi kehidupan
karena pikiran tak dapat terganggu
dengan ilusi dan halunisasi
pikiran jernih dan orsinil hingga
dapat menembus ruang ambisi
tak perlu emosi semua cuma basa basi
jantung berhenti berdetak
darah berhenti mengalir
mikrotubulus kehilangan
keadaan kuantumnya
memori dalam pikiran tak henti
terus bergelora semangat hidup
memutar dalam otak
mencoba pecahkan segala persoalan
berlagu mendayu dalam imaji
sampai pun turut serta
menikmati indahnya alam pikiran

Top of Form
RASA

Perasaan tenang luar biasa
Melihat cahaya terang
Menyilaukan entah dari mana
Jiwa yang terlepas sesaat dari raga
Memasuki sebuah dimensi lain
Atau berjalan di kegelapan terowongan
Menuju cahaya di ujungnya
Atau mungkin berkomunikasi dengan roh
Yang memintanya kembali ke raganya
Untuk hidup kembali

Top of Form

KEBANGKRUTAN NASIONAL

Betapa tidak
Warga miskin membengkak
Penganggur terbuka dan terselubung
Jumlahnya terus meningkat
Moral bangsa rusak
Jutaan anak disodomi
Dilain pihak semua berlomba
Mengejar kekuasaan dan harta
Tak malu korupsi
Partai politik ramai berdiri
Para pengusaha berebut tivi
Diskusi
Apresiasi
Atraksi
Ataukah cuma aksi para politisi

Top of Form
NGELINDUR

larut
dingin
tak bisa tidur
melangkah kesana
kemari
menggenggam
memandang
mencari
kehangatan yang tak mungkin ada
pekat malam menusuk relung jiwa
mereguk sukma
menyimpan rasa, resah
terlintas di benak
tuk akhiri segala, semua
tiba-tiba terdengar suara
lembut
di dalam hati
ingatlah, ingatlah, ingatlah
apa daya, jiwa
diambang penat, tak mampu
kenali bisikan nurani
tak tahu harus berbuat apa
rebah pulas diambang senja

Senin, 21 Juli 2014

Catatan Penyair Keder



PENDAKIAN HIDUP

nyalakan terus lilin
yang ada dalam jiwamu
dimanapun berada
janganlah api lilin itu
hanya menerangi jiwamu saja
tapi terangi seluruh jiwa-jiwa
yang ada didekatmu.
mari sama-sama kita setubuhi
panggung-panggung kehidupan
kesusahan adalah kehidupan
dan kesenangan adalah kematian.
negeri tak berpenghuni
selagi ada matahari
kehidupan akan terus berjalan
Pendakian tak pernah selesai
dari satu episode ke episode lainnya
panas terik mentari menemani
rembulan terangi malam
bintang berpijar menyelimuti
hamparan bebatuan terjal jadi teman sejati
langit
gunung
dan lautan artistik kehidupan
kopiku habis tinggal ampas
duitku ludes dilahap kenyataan
tenagaku terkuras sembilu
pikiranku menerawang terbawa angan
kakiku lumpuh terbentur sendu
pilu
NYANYIAN HIDUP

kekuatan pikiran menundukkan dunia
pikiran selalu dapat menjadi solusi kehidupan
karena pikiran tak dapat terganggu
dengan ilusi dan halunisasi
pikiran jernih dan orsinil hingga
dapat menembus ruang ambisi
tak perlu emosi semua cuma basa basi
jantung berhenti berdetak
darah berhenti mengalir
mikrotubulus kehilangan
keadaan kuantumnya
memori dalam pikiran tak henti
terus bergelora semangat hidup
memutar dalam otak
mencoba pecahkan segala persoalan
berlagu mendayu dalam imaji
sampai pun turut serta
menikmati indahnya alam pikiran
RASA

Perasaan tenang luar biasa
Melihat cahaya terang
Menyilaukan entah dari mana
Jiwa yang terlepas sesaat dari raga
Memasuki sebuah dimensi lain
Atau berjalan di kegelapan terowongan
Menuju cahaya di ujungnya
Atau mungkin berkomunikasi dengan roh
Yang memintanya kembali ke raganya
Untuk hidup kembali
KEBANGKRUTAN NASIONAL

Betapa tidak
Warga miskin membengkak
Penganggur terbuka dan terselubung
Jumlahnya terus meningkat
Moral bangsa rusak
Jutaan anak disodomi
Dilain pihak semua berlomba
Mengejar kekuasaan dan harta
Tak malu korupsi
Partai politik ramai berdiri
Para pengusaha berebut tivi
Diskusi
Apresiasi
Atraksi
Ataukah cuma aksi para politisi
NGELINDUR

larut
dingin
tak bisa tidur
melangkah kesana
kemari
menggenggam
memandang
mencari
kehangatan yang tak mungkin ada
pekat malam menusuk relung jiwa
mereguk sukma
menyimpan rasa, resah
terlintas di benak
tuk akhiri segala, semua
tiba-tiba terdengar suara
lembut
di dalam hati
ingatlah, ingatlah, ingatlah
apa daya, jiwa
diambang penat, tak mampu
kenali bisikan nurani
tak tahu harus berbuat apa
rebah pulas diambang senja
SALAM SANG PECUNDANG

maafkan diriku
wahai dinda yang disana
hatiku kalut
kusut
semrawut
carut-marut
sampaikan salam takzimku
pada para pejuang
wahai dinda yang disana
sekali lagi maaf dan maaf
bila diriku tak mampu
menghalau kesegalaan ini
yang terus memburu
memacu
memompa jantungku
hingga diriku tak mampu
untuk berkaca dan berkata
wahai dinda dan kanda yang disana
salam perjuangan dari sang pecundang
BUROQ

Kuda gagah berkepala manusia
Dengan sayap perkasa terbang
Melesat bagaikan kilat
Dilengkapi dengan pelana mutiara
Dan tali kekang yakut merah
Kedua matanya tertuliskan nama
Setiap jarak dilangkahinya
Sejauh mata memandang
Terbang secepat kilat
Balutan putih ditubuhnya cemerlang,
berkilau
Sangat sulit ditangkap mata
Sesuai dengan imajinasi 15 abad silam
Pengembara sebatas kuda terbang
Turun dari surga kiriman sang pencipta
DUNIA

Maka kukatakan padamu
Keluarkanlah dia dari hatimu
Sebelum badan keluar darinya
Janganlah kamu mengoyak tabirmu
Dihadapan orang
Yang mengetahui rahasiamu
Dia hanyalah racun yang dimakan
Oleh orang yang tidak mengetahunya
Jauhilah dia dengan mengenalnya
Sebab dia adalah ular jinak
Yang gampang dipegang
Tapi mengandung racun mematikan
Orang berakal akan waspada terhadapnya
Sedangkan anak-anak suka memainkannya
RAPALAN MANTRA

Wahai para perapal mantra
Apa yang tertanam dalam hatimu
Apakah mantra dapat hidupkan hatimu
Sebagaimana hujan menyirami bumi
Terkadang hujan turun menyirami
Tanaman hingga berbunga, berbuah
Tak ada sesuatu apapun yang mampu
Menghalangi tanaman berbunga, berbuah
Wahai para perapal mantra
Apa pula yang kau cemaskan
Dari mantra yang kau rapalkan
TERKUBUR

Kilatan cahaya ternikmati
terangkai dalam kata
Setinggi jiwa menjulang
terbelenggu
dalam air mata menggenang
Jiwa hampa
raga kerangka tanpa makna
Jiwa hancur
bersama tubuh terkubur
bunga gugur
biji tumbuh ditaman keabadian
PELANGI

bel itu tak lama lagi akan dipencet oleh penjaga
pertanda usailah sudah semua
merah
kuning
hijau
biru
dan warna lainnya sebatas tanda
pada hitungan jari
semua akan kembali
bersatu untuk berseteru atau bercumbu
macet
mepet
mencret
semua bergantung pada nilai
dari apa yang telah dituai
dan pada kertas putih ini
tinta berjanji akan terus melumuri
merah
kuning
hijau
biru
tergantung trend
dalam menentukan warna
pada akhirnya kini semua berwarna
PUJA PUJI

janganlah kau tinggi hati
ketika di puji
dan janganlah kau rendah diri
ketika di caci
di maki
karena pujian
cacian
dan makian
seonggok kehidupan
selagi ada matahari
kehidupan tetap berjalan
MENJALA HARI

30 ribu hari yang kau punya
kau bisa kuasai dia
jangan dipetik bila dia tak sama
semoga dia tak tahu
bersenang-senanglah denganku
dan jangan sampai gelap mata
dia memang fenomenal
dan bukan orang normal
pasti kontroversial
ADA APA PADA BUAH SEMANGKA

senantiasa ia bernama
kulitnya hijau
dagingnya merah kuning menyala
bijinya hitam pekat
hati-hati membelahnya
jangan sampai buah semangka itu
hancur berantakan tiada guna
kau harus gunakan pisau tajam
untuk membelahnya
kau harus cerdas
cermat dalam membagi belahannya
kulit hijaunya dapat dijadikan ramuan obat
daging merah kuningnya sejukkan dahaga
biji hitam pekatnya
lekaslah taburkan dipekarangan rumah
berharap benihnya kan berbuah
lima tahun kemudian
jaga dan rawatlah ia
buah semangka senantiasa bernama

Catatan Penyair Keder



FENOMENAL

Kamu memang fenomenal
Bukan orang normal
Kontroversial
Kopi dingin malam ini
Dia tak tahu
Bersenang-senanglah denganku
Dan jangan sampai gelap mata
30 ribu hari yang kau punya
Kau bisa kuasai dia atas ijin Nya
laila dan seribu bulan
menjala malam
Dapat kampret
Mepet
Prepret
Kaki lecet
jomplang
Plang
Pling
Plung
Pleng
Plong
Tanpamu
Karenamu
Bidadari
Diri tak bersuara
Api tak mengajak asap
Baranya mati kedinginan
Api tak lagi setia pada jalurnya
Begitulah
Murahan
Biar murah tetaplah nikmat
Dia candu untukku

SI TAGOR

Si Tagor disimpang jalan esensinya terbunuh subtansi
Namun apa lacur subtansi itu begitu kuat, erat
Menganggu dan bahkan membunuh
Setiap detik
Menit
Jam
Hari
Minggu
Bulan
Tahun
Bahkan abad
Terus tersulut serta tersudut dibatas ruang dan waktu
Menyurutkan niat si Tagor untuk membakarnya
Si Tagor makin bingung dan terus bertanya pada hatinya
Akankah terbakar kalau membakar
Atau apakah membakar kalau terbakar
Dan dua perihal tersebut terus membenak dibatin si Tagor
Hingga dirinya terbang dijemput angin yang terhimpit di batin

PANUTAN

Segala suka duka telah tertinggal
Fajar kini merekah
Memancarkan harapan
Kegaduhan dan segala carut-marut
Sejatinya bermuara pada esensi
Krisis yang berkepanjangan
Hilangkan sosok pemimpin negarawan
Tokoh panutan yang mampu jadi teladan
Pemimpin teladan
Akankah terlahirkan

HAI PENGUNJUNGKU

Ketika tiada seorang pun
menjadi temanku
Malam terasa dingin
Pada waktu kukatakan
Wahai penguasa cita-cita
Apakah yang telah ditetapkan
melalui janji-janjimu
Dekatkan dia padaku

YANG TERSEMBUNYI

Jangan mengurung diri didalam laut
biarkan aku menabirimu
dengan mengurung dirimu sendiri
Dilaut banyak batas-batas
Lantas yang manakah akan menahanmu
Duhai kau yang tersembunyi
Aku sudah letih
Arah manakah yang harus ku tuju
Aku ini hanyalah segumpal tanah
sedang kau terbuat dari batu
Duhai kau yang tersembunyi
Aku bermohon padamu
tunjukkanlah dirimu

GELAP

Dunia gelap
Tak ada cahaya bulan
Bintang-bintang bersembunyi
dibalik kegelapan
Air laut tampak gelap
dan hawa dingin menembus tulang
Air menutupi segalanya
Lautan laksana sampan
yang mengambang
Ditengah ombak bergolak
bergejolak
gelap

SESUATU

Sesuatu tak menarik hati
Sesuatu telah terjadi dalam diri
Sesuatu yang tak dimengerti
Sesuatu yang tak dapat dijelaskan
oleh buku-buku
atau keterangan para ahli
Sesuatu akan sesuatu

DEVIDE AT AMPERA

Racun itu amatlah ampuh
Ratusan tahun negeri ini lumpuh
Sejarah kelam
terselip dalam ungkapan
Bukan
Bukan
Bukan
Dia bukan pahlawan kesiangan
Dia korban fitnah belaka
kerancuan jaman

TUBUH KITA MILIK KITA KAH?

Wajah merunduk
Air mata menetes tak terbendung
Tangis berserakan menahan duka
Pucat
Pasi
Perut buncit
Yang tinggal hanya kerangka
Sinar mata habis sudah
Semua hilang tak berbekas
Bau busuk menusuk
Kulit mengeriput
Mata layu
Kuyu
Pasrah tanpa daya
Tak ada lagi yang tersisa
Bicara pun tak bisa
Masihkah dapat untuk berkaca

KAWAN

Belum tibalah saatnya
Kita menunduk
Memandang wajah sendiri
Diri bersembunyi di ruang pengap
penuh gumpalan asap
Rebah, semua basah
Hujan lebat, mencekam
Merobek impian
Terjebak pada pikiran sendiri
Sepi
Sumpek, apek
Dibungkam kenyataan
Langkah sang pejalan kaki
Larut dalam kesedihan
dalam kedukaan
masih tetap diam

SEMU

Wahai kau yang disana
bangkitlah dari pembaringan
jemput segala asa yang kan merekah
basuh dirimu
dengan air kehidupan yang jernih
keluarlah dari ruang pengap
menuju bilik ruang kabin kapal
tarik jangkar yang terbelenggu
siap berangkat arungi samudera biru
Wahai jiwa yang diselimuti napsu
berbantalkan dosa
tergolek di pembaringan maksiat
datanglah
datanglah
dalam dekapan Nya
balum dan tak ada kata
t..e..r..l..a..m..b..a..t
Dari ketiadaan semua bermula
menuju kepada penciptaan
keberadaan akhirnya
mulutku tersumpal
tak mampu berkata

Seribu Baris Sajakku

Bila setiap hati sibuk berduka
Pada titik ini siapa temanku bicara
Jika hatimu ruang gelap
Pengap tak berpintu
Jika hayatmu pohon beku bisu
Kepada siapa angin bercanda
Memburu
Menggeram
Membatu