Selasa, 22 Juli 2014

Catatan Penyair Keder



TAK KUASA

budi dikuasai nafsu
nafsu dikuasai sukma
sukma dikuasai rahsa
rahsa dikuasai cahaya
cahaya dikuasai hayya
hayya dikuasai...

tak kuasa.

Top of Form
MAKRIFATILLAH

sempurna terisap dalam
selamanya
tak punya tingkah
dan laku
tak punya kehendak
apa-apa
tlah menjadi buta
tuli
bisu
dan lenyap perasaannya
gerak
tingkah dan laku
bagaimana Sang Pencipta

Top of Form
KERINGAT PELUKIS

air kemalangan menghujani
para pelukis rinai gerimis
setipis langkahnya mengubah
dibuatnya pelangi diantara gedung
diwaktu sendu

buram corak kemurungan
menempel pada kanvas
melekat dalam hati bingung
menjadi garis banjaran

goresannya adalah petunjuk
segenggam warna kehidupan

Top of Form

KELAM

melupakan terangnya pagi
merindukan cahaya bintang

bulatan cakrawala
menjadi pusaran mimpi

berdiri bagai burung gagak
bersuara menunggu malam
butiran air sebening kristal
pada ujung sayap kekuasaan
jatuh berderai sebagai tangisan
dipenghujung malam

Top of Form
BELAH

wahai penabur bintang
kau cahaya
kiranya mampu mengetuk malam
upaya hati memecah gegelapan
berjuta butiran api
hujan rindu
yang sirna terhempas angin lalu
inilah pertemuan

ingatlah gempita itu kawan
yang dulu kau letakkan dijemarimu
yang dapat kau lempar
setinggi yang kau mau

masa itu...

dimana sapa menggema
semarak canda diatas cinta

dimana...

dimana kawan?

semua kini hangus
terbang bersama asap kepunahan
dan kedewasaan membawamu
tinggalkan kenangan
yang hadir menjadi kilau
setitik terang tiba-tiba menghilang
redup diantara bintang

aku...

kini tergilas waktu
yang angkuh tak bertumpu
namun sang cakrawala
selalu mengamati
dari titik sepi ujung dunia

Top of Form
MENUNTUN REMBULAN

selaras memasuki malam
detik berirama
pada jantung kota
yang berdiri setinggi
pencakar langit
dibawahnya terhias redup
pelita sekuning senja
menggoyahkan retina
sayup ditengah cakrawala
usai rintik
menghembuskan kebekuan
melewati bercak
saat menuntun rembulan
ke penghabisan
kubangan luka tersisa

mengotori...

jalan-jalan utama
berhenti di pintu fajar
sebelum mengetuk
cahaya-cahayanya dilepaskan

Top of Form
NESTAPA

menyilaukan
seperti musuh dihadapan
gemetar selaput
pejamkan keberanian
tubuh mewakili
jantung degup terakhir
saat nafas dihembuskan

beban hati selalu bertambah
bungkuk pundak
tak mampu menahannya
dikala tiang-tiang kosong
dan rongga lapuk
harapan yang tak kunjung dating

Top of Form
APA

saat merasa menyentuh
itulah gerak
sebagai maksud ingin

bila salah anggap
atau menolak menerima
berarti bukan memandang

sebagaimana yang dimau...

Top of Form
SEJUTA RASA

nyanyian hati
tertunduk
diatas batu
membuka
untuk sinar
siang hari

Top of Form
DI UJUNG SENJA

kebekuan hati
terduduk disamping jiwa
ketika angin bertiup
dingin
menjadi kesejukan
sepai-sepoi
menghantar
lesunya terurai
helaian mulai putih
menunggu senja tenggelam
bongkahan yang tersisa
disandarkan
melepas garam untuk cair
bersatu di laut

Top of Form
SANG PENCIPTA

suara hati bicara
lisan diam bergetar
menahan letusan air mata

hidup diantara
kasih sayang orang yang
baru saja pergi tiada
tindakan

mau...

tidak nyaman
dengan kehendak

sang pencipta...

namun tlah tertelan
sebagai anak-anak sendu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar