KEBANGKRUTAN NASIONAL
Betapa tidak
Warga miskin membengkak
Penganggur terbuka dan terselubung
Jumlahnya terus meningkat
Moral bangsa rusak
Jutaan anak disodomi
Dilain pihak semua berlomba
Mengejar kekuasaan dan harta
Tak malu korupsi
Partai politik ramai berdiri
Para pengusaha berebut tivi
Diskusi
Apresiasi
Atraksi
Ataukah cuma aksi para politisi
Betapa tidak
Warga miskin membengkak
Penganggur terbuka dan terselubung
Jumlahnya terus meningkat
Moral bangsa rusak
Jutaan anak disodomi
Dilain pihak semua berlomba
Mengejar kekuasaan dan harta
Tak malu korupsi
Partai politik ramai berdiri
Para pengusaha berebut tivi
Diskusi
Apresiasi
Atraksi
Ataukah cuma aksi para politisi
GAMANG
Meretas takdir yang singgah
Sayap patah terbentur
Sejuta kenyataan mengangkang
Apalah daya kini semua hanyut
Dihempas kemelut berkecamuk
Apa jadinya bila jalan menuju muara
Penuh dengan rona terhempas angin
Terhujam di puncak gunung
Meretas takdir yang singgah
Sayap patah terbentur
Sejuta kenyataan mengangkang
Apalah daya kini semua hanyut
Dihempas kemelut berkecamuk
Apa jadinya bila jalan menuju muara
Penuh dengan rona terhempas angin
Terhujam di puncak gunung
HIDUP
Tak ada awan yang menaungi
Diri Takut akan kehausan
Langit tak menurunkan hujan
Diri takut akan kekeringan
Dalam menempuh perjalanan
Pada tujuh puluh keabadian
Tak ada awan yang menaungi
Diri Takut akan kehausan
Langit tak menurunkan hujan
Diri takut akan kekeringan
Dalam menempuh perjalanan
Pada tujuh puluh keabadian
ENTAH
Kali tergenang, mampet
penyakit dan banjir melanda kota
Entah, terus saja dan demikian adanya
Pemukiman tergusur, tol
mrt dan waduk
Proyek birokrasi serta makelar berdasi
Entah, terus saja dan demikian adanya
Sejuta pengemis tercecer, berkedok
Berlomba perbanyak pahala
Poligami pemuka agama
Entah, terus saja, demikian adanya
Kali tergenang, mampet
penyakit dan banjir melanda kota
Entah, terus saja dan demikian adanya
Pemukiman tergusur, tol
mrt dan waduk
Proyek birokrasi serta makelar berdasi
Entah, terus saja dan demikian adanya
Sejuta pengemis tercecer, berkedok
Berlomba perbanyak pahala
Poligami pemuka agama
Entah, terus saja, demikian adanya
AKU
Sang pendikte duduk bersila
Sang pendengar duduk melingkar
Mereka berhadapan dengan sikap yang sama
Jika hal tersebut tetap, maka
Aku mungkin sekali untuk duduk didekatnya
Bertindak sebagai perantara keduanya
Tentu saja,
Aku kan terus setia mencatat semuanya
Sang pendikte duduk bersila
Sang pendengar duduk melingkar
Mereka berhadapan dengan sikap yang sama
Jika hal tersebut tetap, maka
Aku mungkin sekali untuk duduk didekatnya
Bertindak sebagai perantara keduanya
Tentu saja,
Aku kan terus setia mencatat semuanya
KEPADA ENGKAU
Sosoknya utuh dan transparan
Feminis
Pendekar emansipasi
Pembela rakyat
Pejuang anti-kolonial
Ditafsirkan
Dinegosiasikan
Aku dan kau
Subyek dalam proses
Sosoknya utuh dan transparan
Feminis
Pendekar emansipasi
Pembela rakyat
Pejuang anti-kolonial
Ditafsirkan
Dinegosiasikan
Aku dan kau
Subyek dalam proses
TERKUBUR
Kilatan cahaya ternikmati
terangkai dalam kata
Setinggi jiwa menjulang
terbelenggu
dalam air mata menggenang
Jiwa hampa
raga kerangka tanpa makna
Jiwa hancur
bersama tubuh terkubur
bunga gugur
biji tumbuh ditaman keabadian
Kilatan cahaya ternikmati
terangkai dalam kata
Setinggi jiwa menjulang
terbelenggu
dalam air mata menggenang
Jiwa hampa
raga kerangka tanpa makna
Jiwa hancur
bersama tubuh terkubur
bunga gugur
biji tumbuh ditaman keabadian
FITNAH
Sangat halus tidak memaksa
Dan disebarkan tanpa paksaan
Terjadi perang besar
Bencana kekeringan dan kelaparan
Dia datang membawa fitnah besar
Pemutarbalikkan fakta
Syahwat merajalela
Dikalangan umat manusia
Sangat halus tidak memaksa
Dan disebarkan tanpa paksaan
Terjadi perang besar
Bencana kekeringan dan kelaparan
Dia datang membawa fitnah besar
Pemutarbalikkan fakta
Syahwat merajalela
Dikalangan umat manusia
MELARAT
Cinta indah dan nikmat
Itu dulu
Sebelum kemelaratan menyeringai
Menjilati sumsum syaraf kami
Ini menyakitkan
Aku bosan melarat
Aku kapok sengsara
Aku tak tahan dilecehkan
Dihina banyak orang karena melarat
Percuma saja apalah artinya aku
Bila kaum intelektual
Menggaruk punggung kaum lain
Cinta indah dan nikmat
Itu dulu
Sebelum kemelaratan menyeringai
Menjilati sumsum syaraf kami
Ini menyakitkan
Aku bosan melarat
Aku kapok sengsara
Aku tak tahan dilecehkan
Dihina banyak orang karena melarat
Percuma saja apalah artinya aku
Bila kaum intelektual
Menggaruk punggung kaum lain
LORONG TAK BERUJUNG
terlampau berat dihantam
terhantam
pikiran tercabik
cabik
rumah pun jadi kamar peternakan
tak kuat perlahan terbelah
hikmah
tabah
tak berfaedah
menelusuri lorong tanpa ujung
menyakitkan
terlampau berat dihantam
terhantam
pikiran tercabik
cabik
rumah pun jadi kamar peternakan
tak kuat perlahan terbelah
hikmah
tabah
tak berfaedah
menelusuri lorong tanpa ujung
menyakitkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar