FENOMENAL
Kamu memang fenomenal
Bukan orang normal
Kontroversial
Kopi dingin malam ini
Dia tak tahu
Bersenang-senanglah denganku
Dan jangan sampai gelap mata
30 ribu hari yang kau punya
Kau bisa kuasai dia atas ijin Nya
laila dan seribu bulan
menjala malam
Dapat kampret
Mepet
Prepret
Kaki lecet
jomplang
Plang
Pling
Plung
Pleng
Plong
Tanpamu
Karenamu
Bidadari
Diri tak bersuara
Api tak mengajak asap
Baranya mati kedinginan
Api tak lagi setia pada jalurnya
Begitulah
Murahan
Biar murah tetaplah nikmat
Dia candu untukku
SI TAGOR
Si Tagor disimpang jalan esensinya terbunuh subtansi
Namun apa lacur subtansi itu begitu kuat, erat
Menganggu dan bahkan membunuh
Setiap detik
Menit
Jam
Hari
Minggu
Bulan
Tahun
Bahkan abad
Terus tersulut serta tersudut dibatas ruang dan waktu
Menyurutkan niat si Tagor untuk membakarnya
Si Tagor makin bingung dan terus bertanya pada hatinya
Akankah terbakar kalau membakar
Atau apakah membakar kalau terbakar
Dan dua perihal tersebut terus membenak dibatin si
Tagor
Hingga dirinya terbang dijemput angin yang terhimpit
di batin
PANUTAN
Segala suka duka telah tertinggal
Fajar kini merekah
Memancarkan harapan
Kegaduhan dan segala carut-marut
Sejatinya bermuara pada esensi
Krisis yang berkepanjangan
Hilangkan sosok pemimpin negarawan
Tokoh panutan yang mampu jadi teladan
Pemimpin teladan
Akankah terlahirkan
HAI PENGUNJUNGKU
Ketika tiada seorang pun
menjadi temanku
Malam terasa dingin
Pada waktu kukatakan
Wahai penguasa cita-cita
Apakah yang telah ditetapkan
melalui janji-janjimu
Dekatkan dia padaku
YANG TERSEMBUNYI
Jangan mengurung diri didalam laut
biarkan aku menabirimu
dengan mengurung dirimu sendiri
Dilaut banyak batas-batas
Lantas yang manakah akan menahanmu
Duhai kau yang tersembunyi
Aku sudah letih
Arah manakah yang harus ku tuju
Aku ini hanyalah segumpal tanah
sedang kau terbuat dari batu
Duhai kau yang tersembunyi
Aku bermohon padamu
tunjukkanlah dirimu
GELAP
Dunia gelap
Tak ada cahaya bulan
Bintang-bintang bersembunyi
dibalik kegelapan
Air laut tampak gelap
dan hawa dingin menembus tulang
Air menutupi segalanya
Lautan laksana sampan
yang mengambang
Ditengah ombak bergolak
bergejolak
gelap
SESUATU
Sesuatu tak menarik hati
Sesuatu telah terjadi dalam diri
Sesuatu yang tak dimengerti
Sesuatu yang tak dapat dijelaskan
oleh buku-buku
atau keterangan para ahli
Sesuatu akan sesuatu
DEVIDE AT AMPERA
Racun itu amatlah ampuh
Ratusan tahun negeri ini lumpuh
Sejarah kelam
terselip dalam ungkapan
Bukan
Bukan
Bukan
Dia bukan pahlawan kesiangan
Dia korban fitnah belaka
kerancuan jaman
TUBUH KITA MILIK KITA KAH?
Wajah merunduk
Air mata menetes tak terbendung
Tangis berserakan menahan duka
Pucat
Pasi
Perut buncit
Yang tinggal hanya kerangka
Sinar mata habis sudah
Semua hilang tak berbekas
Bau busuk menusuk
Kulit mengeriput
Mata layu
Kuyu
Pasrah tanpa daya
Tak ada lagi yang tersisa
Bicara pun tak bisa
Masihkah dapat untuk berkaca
Wajah merunduk
Air mata menetes tak terbendung
Tangis berserakan menahan duka
Pucat
Pasi
Perut buncit
Yang tinggal hanya kerangka
Sinar mata habis sudah
Semua hilang tak berbekas
Bau busuk menusuk
Kulit mengeriput
Mata layu
Kuyu
Pasrah tanpa daya
Tak ada lagi yang tersisa
Bicara pun tak bisa
Masihkah dapat untuk berkaca
KAWAN
Belum tibalah saatnya
Kita menunduk
Memandang wajah sendiri
Diri bersembunyi di ruang pengap
penuh gumpalan asap
Rebah, semua basah
Hujan lebat, mencekam
Merobek impian
Terjebak pada pikiran sendiri
Sepi
Sumpek, apek
Dibungkam kenyataan
Langkah sang pejalan kaki
Larut dalam kesedihan
dalam kedukaan
masih tetap diam
SEMU
Wahai kau yang disana
bangkitlah dari pembaringan
jemput segala asa yang kan merekah
basuh dirimu
dengan air kehidupan yang jernih
keluarlah dari ruang pengap
menuju bilik ruang kabin kapal
tarik jangkar yang terbelenggu
siap berangkat arungi samudera
biru
Wahai jiwa yang diselimuti napsu
berbantalkan dosa
tergolek di pembaringan maksiat
datanglah
datanglah
dalam dekapan Nya
balum dan tak ada kata
t..e..r..l..a..m..b..a..t
Dari ketiadaan semua bermula
menuju kepada penciptaan
keberadaan akhirnya
mulutku tersumpal
tak mampu berkata
Seribu Baris Sajakku
Bila setiap hati sibuk berduka
Pada titik ini siapa temanku bicara
Jika hatimu ruang gelap
Pengap tak berpintu
Jika hayatmu pohon beku bisu
Kepada siapa angin bercanda
Memburu
Menggeram
Membatu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar