Minggu, 29 September 2013

Catatan Penyair Keder

 (111)

DOKTRIN TURUNAN

Gaya hidup gobal dan instan kini
merambah pengaruhi pendangkalan aqidah
ibadah seremoni pemahaman kurang
jadi doktrin turunan dibutuhkan kajian
syahadat pun perlu diulang

 (112)

ORIENTASI JAMAN

Cinta dunia Lupa segala
semua kini tinggal nama
sebagai bangunan belaka
perihal paling utama
menjaga tatanan keluarga
terus melaksanakan perintah
meninggalkan segala larangan
memperteguh kesatuan
jadikan sebagai pegangan
petunjuk jalan kehidupan

(113)

 KANDAS

cinta adalah bukti
dari “sunah-naluriah”
akan tetapi apa jadinya
bila asmara sudah terlanjur
harus karam dilautan cinta
yang sepertinya tak bertepi
tidak bisa berkutik menjadi
tawanan budi baik telahmendidik
pengembaraan sesungguhnya
wisata cinta yang kandas
tak ada dendam semua berjalan
menurut perhitungan yangwajar
dan semuanya terus berputar

(114)

CINTAKU

Cintaku rindu
Cintaku gundah
Cintaku bimbang

Cintaku ............

Tertutup tirai

Cintaku ............

Segala puja dan puji

Cintaku ............

Tak ada segala
Kecuali untukmu sahaja

(115)

 VALENTINE

Raung gemuruh mengguncang
tajam caling buas menikam
merah mata sayup terbius tubuh
bersimbuh darah tercabiktersungkur
pandanglah sesuatu dengan pikiran cinta

(116)

 KANDAS

cinta bukti sunah naluriah
akan tetapi apa jadinya
bila asmara sudah terlanjur
harus karam dilautancinta
yang sepertinya tak bertepi
tidak bisa berkutik
menjadi tawanan
budi baik telah mendidik
pengembaraan wisata cinta
yang kandas tak ada dendam
semua berjalan
perhitungan wajar
semua terus berputar

(117)

 PEMBERONTAKAN

Semua adalah implementasikekuatan
Kepedihan dan kegaduhan
yang memunculkan para tokoh
pemimpin pemberang
kelembutan, banci dankekampungan
lima tokoh tersebut terangkummenjadi satu
menimbulkan suatu elegipolitik
yang tak pernah usai
puncak-puncaknya…?

(118)

 SAJAK PUJANGGA

Mewarnai garis tangan dengan tinta merah
mengukir kata sajak pujangga
berganti doa diselaput kemenangan
nampak menggenggam takterabaikan
tangis dan tawa diatas pena menyala
kobarkan lembaran harapan dan asa

(119)

 CANDA TAWA DUNIA

Asa dipelupuk mata meretas kata
kebahagiaan disana mentari sinarkan
kata bermakna kembali berdering
hilangkan mimpi meninggalkantanya
tanpa jawaban pasti canda tawa dunia
kembali bermula

(120)

 KESEMPATAN

Dalam sadar membakar ranting
saraf otak meletak hanguskan daun
hijau tirai nurani jutaan mantra
tertata basah kerikiltajam
terus berdusta tubuh lunglai
tak kuasa berdiri dihadapkan takdir
tak beralasan tunggu kesempatan
semua jawaban pada kenyataan

Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


(101)

 LARA                   

jika malam kau
peruntukkan bagi kebisuan
lalu kidung sunyi menyentuh
sendu bersama lara
sekejap saja terlena pada tepi
maka gundah yang tersimpan
mulai hilang walau telah terkunci
rapat
melalui pori setitik
celah itu tak lagi kau buka
bila kisah lama yang menggores
membekas pada harimu
sebab beban tertinggal
bukan memberati namun
lebih meringankan hari


 (102)

TAK TAHU DIRI

terpikat kepada “sang putri”
tak direstui “sang istri”
berang dan sakit hati
mengatur siasat diri
pergi ke dukun sakti

akankah dapat meminang “sang putri”…?

ataukah diri ditalak “sang istri”…?


 (103)

REVOLUSI BELUM MATI

mawas diri

makar terus terjadi

menekan lewat aksi

revolusi…

akankah terjadi?


 (104)

 AMBISI SANG PENGUASA NEGERI

seratus juta manusia
mengepung ibukota negeri
“perang” berlarut-larut
strategi membuat frustasi
tak sedikit
yang menyerahkan diri
semua hanya ambisi
sang penguasa negeri


 (105)

MASA TRANSISI NEGERI INI

apa yang terasa
tidak jelas

hampir semua kalangan
apalagi rakyat jelata

terbiasa merusak dan menilai
reformasi tanda tanya
akan masa depan

bagaimana tidak

situasi politik
ekonomi dan budaya negeri ini
semakin tak pasti


 (106)

 TAK PASTI KAPAN

mahasiswa yang sarjana
keluar dari status pengganggur terdidik


tak pasti kapan
harga bahan bakar minyak
listrik dan air bisa stabil

 tak pasti kapan
konglomerat hitam bisa ditangkap
 tak pasti kapan
biaya sekolah yang terjangkau
 tak pasti kapan
budaya lokal mendapat ruang
yang lebih luas untuk berkembang

 semakin tak pasti.

 (107)

 ENTAH

 setelah masa transisi ini

rakyat mengalami disorientasi masa depan
misi dari mengubah dunia
menjadi sekedar mengubah kata-kata
masa ini sebagai fase transisi
dari otoritarianisme

entah menuju kemana...?


 (108)

 JAKARTAKU JAKARTA KITA

 gumpalan benang kusut itu
belum sepenuhnya terurai
kawasan resapan air
dibangun pertokoan
apartemen atau real estate

musibah banjir
wujud tata kota tak proporsional
tak melihat dampak lingkungan

gambaran hidup kota Jakarta kini

kriminalitas tumbuh subur
kemiskinan merata
kemacetan merajalela
angka pengangguran tinggi

problematika sosial kota Jakarta

 menghanyutkan jiwa.

 (109)

ONANI INTELEKTUAL

hanya bicara
terjebak “verbalisme”

hanya bertindak dan beraksi
menghantam jurang “aktivisme”

sinergi kekuatan berfikir
berbicara dan bertindak “praksis”

lingkar fikir
refleksi
aksi

bentuk kesadaran kritis

realitas sosial
realitas itu sendiri

onani intelektual


 (110)

ANTI DEMOKRASI

masih menyelimuti sebagian rakyat
berharap perubahan dari “atas”
bukan “dimandirikan” rakyat sendiri

kesadaran “naïf” rakyat
menerima situasi ini
sebagai sesuatu yang “given”

produk kekuasaan “anti rakyat”

dan “anti demokrasi” masa lalu

Catatan Penyair Keder


(91)

SETENGAH TIANG

ujung bulan sabit 
tepat menusuk jantung
kobarkan api kekalahan

bintang berjatuhan
gugur bersama langit
para pahlawan merah-putih 
turun setengah tiang

hormat!

dihadapan para pecundang.

(92)

CUIH!

cinta yang tersimpan di wajah
dunia asing disela bibir sinis
di ujung liur terbuang

cuih!

menyedihkan hati
dimana burung-burung
yang riang bernyanyi 

disini 
terasa sunyi

cuih!

jagalah diri
jangan salah paham

(93)

DINDA

beri waktu tuk menjawab
pertanyaan dibahu

bila tak percaya
bila tangis menjadi senjata
bila semua mulai tak setia

perasaan bertanya-tanya
dan pada dasarnya tanya itu
hanya perasaan saja

mengertilah

tak perlu terhujani
dengan tangis dan tanya
semua basah
dalam cintam semata

...dinda...

(94)

TAHUN BARU II

ini permulaan bagi hari baru
Tuhan telah mengkaruniakan
hari ini untuk digunakan
sebagaimana yang dimau

boleh disia-siakan 
atau tumbuh dibawah sinarnya

apa yang dilakukan pada hari ini
sehari hidup dengannya

bila esok menjelang
hari ini akan pergi untuk selamanya
berharap takkan menyesal
dengan harga yang telah terbayar
untuknya.

(95)

TAHUN BARU III

disaat malam tiba
semarak terompet menyambutmu
meninggalkan senja

hai langit biru berjalanlah 

songsong masa baru?

(96)

REFORMASI

meja hijau bersama kursi
yang diduduki
tak mengalami perubahan
jumlahnya sama
hanya restoran ini 
cari sensasi saja
harga pun naik lebih mahal
dari sebelumnya
padahal seperti warung kaki lima
menyediakan makanan ala kadarnya
menunya pun itu-itu saja

katanya reformasi?

sungguh suatu dilema

reformasi harga!

(97)

TANYA II

katakan

pada mesin tua!

apa arti

sebuah jasa?

(98)

MENGETUK PINTU

dalam kerinduan membayang
mengenalmu setengah perjalanan
berdiri memetik bintang
dimalam sunyi
bulan ingin katakan

dimana kamu sekarang?

namun mendung menjadi
tirai

aku dan cahaya!

surat terakhirmu tahun lalu
lewat merpati pos antara seperempat ujung
dunia
aku tunggu balasan
angin mengabarkan sesuatu
tentangmu

tapi kau?

datang dengan motor kumbang
perjalanan empat bulan tanpa
nyawa

kau tinggalkan dimana dia?

(99)

DIA

 datang membawa senyum
untuk disimpan baik-baik
didalam mimpi
lalu pergi tinggalkan tanda
untuk kugapai jejak asmara
dia atau aku menunggu
atau memang cinta
seperti ini adanya

 (100)

 PESISIR

getarannya mengguncang
heningku
sebagai gelombang sudutkan
karang hati terkikis sisi cadas
terbawa sahutan ombak menepi
yang terhampar tergenggam
tangan kuasa
terinjak berlari riang
terbakar sang raja
mengiang dalam pedih
bila malam tumbuh perkakas
menggali dalami lara
mencari asal sesuatu
menggema pada lubang gua-gua
kaki bukit menembus
tubuh lunglai gugurkan
yang pernah kokoh
berakar didasarnya

Catatan Penyair Keder


(81)

RISAU

apalagi yang kau mau
setelah lepas belenggu hitam
dan rintik menghanyutkan
masa-masa tak bersahabat
kini kau masih saja termenung
menatap bulan dan bintang
malam yang tak pernah singgah
matahari dan hening memburu
insan-insan sepi

risau yang mendekam cukup
merubah cuaca saat ini
tak perlu kau rasakan dinginnya
tak usah terlalu hanyut didalamnya

sebab...

masih ada esok
tempat waktu melewatinya.


 (82)

DERAJAT CINTA

tanpa pikir panjang ku katakan 


aku mencintaimu

bagaimana tidak
cairnya ketakutan dalam diri ini
hanya karena aku memandangmu
lalu perasaan bercampur dalam darah 

berjalan antara sadar dan tidak sadar

kutemukan namamu

terpahat dalam tulang
terukir dengan bahasa

lihatlah cinta
atau perlu kau robek-robek
daging ini dengan egomu
agar kau lebih tahu
derajat cintaku

titik didih kah...?


(83)

PALSU

denyut jantung memompa lirih 

nada jangkrik dibalik tembok sunyi
berirama sahut-sahutan
mengusir segala macam resah
yang teringat akanmu

disini dimalam ini
dan pada setiap detiknya 

aku hargai sebuah sajak indah
mengalir terus tanpa henti
dari bawah rimbun bukit harapan

cernalah syair yang keluar dari cintaku
hingga sulit mengungkapkan
kata pujangga terpendam jauh
sampai mutiara hati rindu 

merangkul kesunyian
kunang-kunang yang sembunyi 

di balik ilalang isyaratkan keindahan

bercahaya aku mampu mengagumimu
lain kali kugapai hatimu



(84)

RIUH

ya Rasul

setelah getar kemanusiaanku
di panas jalanan tercecer

wajahku

aku temukan menjadi thagut
yang tercabik tajam pedang ibrahim
lalu tangisan menjadi teriakan
hiruk pikuk perang badar

ruhku terkapar di kaki bukit uhud

perih


senyap


dan kalah.


(85)

TUHAN II

berarti bukan tak berarti
disanalah terkumandang
hiruk pikuk gelombang
terbakar manjadi serpihan 

puing-puing jagad

Tuhan

kau cahaya
kilaumu menembus jaman
jejak-jejak tapak terikuti
sampai tanah-tanah
gersang tak bertepi

sedang aku nyenyak
dimalam berkepanjangan.


(86)

SUNGGUH

pulau kapuk menjadi saksi
desahmu memanggil namaku
rintihan darah segar membalut
akar merobek kulitmu
disela semak belukar

sungguh menguras keringat
tak puas bersimbah resah
langkahmu mengayun tanpa lelah
meliuk-liuk menyusupi bukit
diatas jalan becek berlumpur
kau terjebak kawah belerang

sungguh mandi menikmati disini 

hangat tempat kita bercinta

(87)

TANGISAN

rangkaianku berupa
tulang dan darah
jantung ini rajutan akar
irisan daging dan kulit

menutupi busuknya hati
berpijak diatas tangisan

bertemanlah denganku
sebab taring ini 

dahaga akan rasa

(88)

TUNGGU

sebelum matahari tergelincir
saat berdiri di tepi jurang
dengan perasaan cadas

aku kan terbang bersama elang 

menyusuri sungai kecil nan jernih

tunggu saat yang ku tunggu...!


(89)

AYAH

kau biarkan aku terpasung jaman
berdiri di permadani keabadian
hanya tertutup kain usang
waktu terasa maya
disela nyanyian kehidupan

Ayah

kau termangu
patahkan jiwa kebenaran
 

sedang aku

terpampang dihadapanmu
bagai pengembala domba

yang terjaga dari tidurnya

(90)

SAJAK NELANGSA

lukisan dipunggungku
wajah gembel yang terkapar
di bukit uhud

cemeti menoreh wajah
busur panah mata besi panas 

taburi tinta emas

aku puas menggendongnya
sampai kubur
tempat ia bersahaja 


dan tuliskan pula dada ini 
dengan sajak nelangsa
yang terbata dari lisannya

selamat tinggal pujangga.

Catatan Penyair Keder


(71)

ADA APA DENGAN HARI ESOK

kembali pulang kemasi cerita
yang semakin berlumut
canda tawa pun semakin laduh

setelah pesta usai
 

ada yang hilang ada yang tertinggal
tanda tanya purba yang terus memburu

ada apa dengan hari esok?

setelah pesta usai
 

esok terdapati matahari 
yang semakin gemetar
merah jingga diufuk barat

ada apa dengan hari esok?

nyatanya telah menjadi masa lalu
masa kini telah menjadi milik
anak cucu kita


(72)

BUNGA

sehelai rambutmu ku petik
ku jadikan hiasan tembikar liar
memerah dibawah asuhan
dikejauhan sinar pagi
sambutlah hangatnya
membantu kau perlahan

mekar.


(73)

MARAH

angin kecil salah arah

waspadalah...

burung gereja senyum merekah
diujung bibirnya dunia berdarah

menjauhlah...

jangan hanya pasrah
tertipu rayuan wajah...
yang dikakinya para semut
menggrogoti mencari celah

ingatlah...!

jalan itu jalur merah


(74)

LEPAS

nestapa seribu benak
melayang di awang-awang
hujan sore melelehkan
untuk lepas
beranjak dari jasad lapuk
tinggalkan kepompong
berpadu tumbuh dilaut biru
memantul cahaya putih
ringankan cagar raya
bertambah baru


(75)

TUHAN

aku pun berangkat
dari keputusasaan untukmu
setelah sekian lama hatimu
melekat dalam sanubari ini
inginnya ku bertemu

Tuhan...

langkah yang kurasakan
terbebani perasaan enggan
mampukah ku tersenyum sebagai
pecundang dihadapnya nanti

maaf...

aku tak sehebat inginmu.


(76)

CINTA TAK TERBACA

akulah pendaki cita
dan cinta
dalam gurun seribu
mengarungi setiap hati
dilembah bunga tersinggahi
setiap mata menjadi alur tinta
yang haus bait cinta
namun akulah mata hati


tak terungkap
tak sembunyi
tak terbaca


(77)

KENYATAAN

tak ada yang bisa dipetik
pada indahnya malam
cinta tak mampu gapai
isi retinamu
dahan sebatang kara
tak berbuah
tak ada asa meleburnya
lahaplah kenyataan
cerna kehidupan
dan mengerti maksud
yang kau telan


(78)

SELALU SELAMANYA

seandainya dia mengetahui
aku jenuh
aku akan bawa cintanya
bukan kebencian

setelah sekian lama bersama 
tak mampu menahan kata
selalu selamanya
 

ikrar telah jatuh 
sia-siakan perasaan
namun lebih banyak berarti
dibanding kata-kata pisah

tak bersatu
itulah ketentuan
kau tak bisa kuhapus 

begitu saja

waktu.


(79)

MALAM II

hembusan angin 

senang beranjak dari telinga
gemuruh jiwa menghantam

malam...

kau pukul batinku
dengan cahaya rembulan
tirani menyibak tabir
bahwa aku telah mati
dalam pelita kehidupan


(80)

GENGGAM DUNIA

kedewasaan membawamu
tinggalkan kenangan
padahal apa yang kau lalui
itulah yang membentukmu saat ini


genggaman pertama
menghirup udara pagi
sebagai keyakinan
sesungguhnya kau mampu
menggenggam dunia
untuk kau letakkan diantara
jemarimu sebagai mainan
yang dapat kau lempar
setinggi yang kau mau


ingatlah gema kebahagiaan
disela tangis
hiruk pikuk insan memandu
melangkah melewati garis 

tangan terkepal waktu itu 
hari dimana kini 
kau tersenyum lugu