Senin, 21 Juli 2014

Catatan Penyair Keder



PENDAKIAN HIDUP

nyalakan terus lilin
yang ada dalam jiwamu
dimanapun berada
janganlah api lilin itu
hanya menerangi jiwamu saja
tapi terangi seluruh jiwa-jiwa
yang ada didekatmu.
mari sama-sama kita setubuhi
panggung-panggung kehidupan
kesusahan adalah kehidupan
dan kesenangan adalah kematian.
negeri tak berpenghuni
selagi ada matahari
kehidupan akan terus berjalan
Pendakian tak pernah selesai
dari satu episode ke episode lainnya
panas terik mentari menemani
rembulan terangi malam
bintang berpijar menyelimuti
hamparan bebatuan terjal jadi teman sejati
langit
gunung
dan lautan artistik kehidupan
kopiku habis tinggal ampas
duitku ludes dilahap kenyataan
tenagaku terkuras sembilu
pikiranku menerawang terbawa angan
kakiku lumpuh terbentur sendu
pilu
NYANYIAN HIDUP

kekuatan pikiran menundukkan dunia
pikiran selalu dapat menjadi solusi kehidupan
karena pikiran tak dapat terganggu
dengan ilusi dan halunisasi
pikiran jernih dan orsinil hingga
dapat menembus ruang ambisi
tak perlu emosi semua cuma basa basi
jantung berhenti berdetak
darah berhenti mengalir
mikrotubulus kehilangan
keadaan kuantumnya
memori dalam pikiran tak henti
terus bergelora semangat hidup
memutar dalam otak
mencoba pecahkan segala persoalan
berlagu mendayu dalam imaji
sampai pun turut serta
menikmati indahnya alam pikiran
RASA

Perasaan tenang luar biasa
Melihat cahaya terang
Menyilaukan entah dari mana
Jiwa yang terlepas sesaat dari raga
Memasuki sebuah dimensi lain
Atau berjalan di kegelapan terowongan
Menuju cahaya di ujungnya
Atau mungkin berkomunikasi dengan roh
Yang memintanya kembali ke raganya
Untuk hidup kembali
KEBANGKRUTAN NASIONAL

Betapa tidak
Warga miskin membengkak
Penganggur terbuka dan terselubung
Jumlahnya terus meningkat
Moral bangsa rusak
Jutaan anak disodomi
Dilain pihak semua berlomba
Mengejar kekuasaan dan harta
Tak malu korupsi
Partai politik ramai berdiri
Para pengusaha berebut tivi
Diskusi
Apresiasi
Atraksi
Ataukah cuma aksi para politisi
NGELINDUR

larut
dingin
tak bisa tidur
melangkah kesana
kemari
menggenggam
memandang
mencari
kehangatan yang tak mungkin ada
pekat malam menusuk relung jiwa
mereguk sukma
menyimpan rasa, resah
terlintas di benak
tuk akhiri segala, semua
tiba-tiba terdengar suara
lembut
di dalam hati
ingatlah, ingatlah, ingatlah
apa daya, jiwa
diambang penat, tak mampu
kenali bisikan nurani
tak tahu harus berbuat apa
rebah pulas diambang senja
SALAM SANG PECUNDANG

maafkan diriku
wahai dinda yang disana
hatiku kalut
kusut
semrawut
carut-marut
sampaikan salam takzimku
pada para pejuang
wahai dinda yang disana
sekali lagi maaf dan maaf
bila diriku tak mampu
menghalau kesegalaan ini
yang terus memburu
memacu
memompa jantungku
hingga diriku tak mampu
untuk berkaca dan berkata
wahai dinda dan kanda yang disana
salam perjuangan dari sang pecundang
BUROQ

Kuda gagah berkepala manusia
Dengan sayap perkasa terbang
Melesat bagaikan kilat
Dilengkapi dengan pelana mutiara
Dan tali kekang yakut merah
Kedua matanya tertuliskan nama
Setiap jarak dilangkahinya
Sejauh mata memandang
Terbang secepat kilat
Balutan putih ditubuhnya cemerlang,
berkilau
Sangat sulit ditangkap mata
Sesuai dengan imajinasi 15 abad silam
Pengembara sebatas kuda terbang
Turun dari surga kiriman sang pencipta
DUNIA

Maka kukatakan padamu
Keluarkanlah dia dari hatimu
Sebelum badan keluar darinya
Janganlah kamu mengoyak tabirmu
Dihadapan orang
Yang mengetahui rahasiamu
Dia hanyalah racun yang dimakan
Oleh orang yang tidak mengetahunya
Jauhilah dia dengan mengenalnya
Sebab dia adalah ular jinak
Yang gampang dipegang
Tapi mengandung racun mematikan
Orang berakal akan waspada terhadapnya
Sedangkan anak-anak suka memainkannya
RAPALAN MANTRA

Wahai para perapal mantra
Apa yang tertanam dalam hatimu
Apakah mantra dapat hidupkan hatimu
Sebagaimana hujan menyirami bumi
Terkadang hujan turun menyirami
Tanaman hingga berbunga, berbuah
Tak ada sesuatu apapun yang mampu
Menghalangi tanaman berbunga, berbuah
Wahai para perapal mantra
Apa pula yang kau cemaskan
Dari mantra yang kau rapalkan
TERKUBUR

Kilatan cahaya ternikmati
terangkai dalam kata
Setinggi jiwa menjulang
terbelenggu
dalam air mata menggenang
Jiwa hampa
raga kerangka tanpa makna
Jiwa hancur
bersama tubuh terkubur
bunga gugur
biji tumbuh ditaman keabadian
PELANGI

bel itu tak lama lagi akan dipencet oleh penjaga
pertanda usailah sudah semua
merah
kuning
hijau
biru
dan warna lainnya sebatas tanda
pada hitungan jari
semua akan kembali
bersatu untuk berseteru atau bercumbu
macet
mepet
mencret
semua bergantung pada nilai
dari apa yang telah dituai
dan pada kertas putih ini
tinta berjanji akan terus melumuri
merah
kuning
hijau
biru
tergantung trend
dalam menentukan warna
pada akhirnya kini semua berwarna
PUJA PUJI

janganlah kau tinggi hati
ketika di puji
dan janganlah kau rendah diri
ketika di caci
di maki
karena pujian
cacian
dan makian
seonggok kehidupan
selagi ada matahari
kehidupan tetap berjalan
MENJALA HARI

30 ribu hari yang kau punya
kau bisa kuasai dia
jangan dipetik bila dia tak sama
semoga dia tak tahu
bersenang-senanglah denganku
dan jangan sampai gelap mata
dia memang fenomenal
dan bukan orang normal
pasti kontroversial
ADA APA PADA BUAH SEMANGKA

senantiasa ia bernama
kulitnya hijau
dagingnya merah kuning menyala
bijinya hitam pekat
hati-hati membelahnya
jangan sampai buah semangka itu
hancur berantakan tiada guna
kau harus gunakan pisau tajam
untuk membelahnya
kau harus cerdas
cermat dalam membagi belahannya
kulit hijaunya dapat dijadikan ramuan obat
daging merah kuningnya sejukkan dahaga
biji hitam pekatnya
lekaslah taburkan dipekarangan rumah
berharap benihnya kan berbuah
lima tahun kemudian
jaga dan rawatlah ia
buah semangka senantiasa bernama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar