Selasa, 22 Juli 2014

Catatan Penyair Keder



LEBUR

dia...

sinar...

tatapannya hangatkan tubuh mati
lalu jemari menuntun
ke sebuah istana
kutemukan sastra
didinding jantungnya

dia...

seseorang...

bukan milikku
sebutnya.

Top of Form
SERIBU SURGA

pulau dalam jiwa
tak hujan lebat
hanya rintik butiran mutiara
menerangi senja
menuntun sungai menuju
pitutur lautan makna
tak habis
tertimba kata-kata indah
yang asin pengalaman pengembara
yang selalu terbit matahari
dari kuncup bunga mekar
menebarkan sari sebagai
sinaran
mengharumi dahaga
elang diatas batu termangu
usai lelap
terselimuti mimpi malam
seribu surga dalam
hati

Top of Form

BURUNG

senja telah membawa hati
pada lelah
mendorong angin memenuhi
kabut ruang kalbu
kabar burung yang kembali
keperaduan kudengar
disana tak ada sesuatu
untuk dimakan
hanya mata air selalu mengalir
dari selaput wajah sang ibu

apa yang mengganggunya?

hilangnya kebahagiaan
yang pernah dipangku
kini harus menggenggam

baik-baik yang ada...

namun aku singgah
untuk memintanya

gumam burung...

nada murung.

Top of Form
TANYA

kenyataan pahit yang
kembali pada sebuah
pelita tua
saat angin berbisik

bertanya...

siapa dirimu?

tanpa kukatakan...

suara hatiku pun ragu...

siapa diriku?

Top of Form
PENANTIAN PANJANG

dentang keputusan
diperdengarkan
berarti kemenangan telah
ditangan
kemudian
jadilah mimpi
penantian yang teramat panjang
jelas melelahkan

wahai...

berderinglah
sebagai genta kebahagiaan

tapi kapan?

ah...

nyatanya hidup
memang tidak ada yang gratis

Top of Form

RAPUH

masih ku tak mengerti
kereta yang terhenti diufuk
barat
membawaku kedalam jiwa yang kosong
ziarahi nisan sendiri
memerah diterpa matahari
saat kerudung hitam usang
tertelan waktu
beranjak
di stasiun penghabisan
rapuh
diatas kubur sendiri

Top of Form
RUNTUH

dunia pecundang runtuh
dikaki lapuk terbawa
angin lalu
pelita pun padam
dari orbit kekalahan
bertahun-tahun melayang
tak bertumpu
berputar tanpa jemu
duniaku kini runtuh

Top of Form
KENYATAAN

tak ada yang bisa dipetik
pada indahnya malam
cinta tak mampu gapai
isi retinamu
dahan sebatang kara
tak berbuah
tak ada asa meleburnya
lahaplah kenyataan
mencerna kehidupan
dan mengerti maksud
yang kau telan

Top of Form
MALAM

hembusan angin senang
beranjak dari telinga
gemuruh jiwa menghantam

malam...

kau pukul batinku
dengan cahaya rembulan
tirani menyibak tabir
bahwa aku telah mati
dalam pelita kehidupan

Top of Form
SELALU SELAMANYA

seandainya dia mengetahui
aku jenuh
aku kan bawa cintanya
bukan kebencian
dan setelah sekian lama
bersama tak mampu menahan kata

selalu...

selamanya...

padahal ikrar telah
jatuh pengorbanan
sia-sia perasaan
namun lebih banyak berarti
dibanding kata-kata pisah

tak bersatu...

itulah ketentuan
kau tak bisa kuhapus begitu saja

waktu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar