Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


(81)

RISAU

apalagi yang kau mau
setelah lepas belenggu hitam
dan rintik menghanyutkan
masa-masa tak bersahabat
kini kau masih saja termenung
menatap bulan dan bintang
malam yang tak pernah singgah
matahari dan hening memburu
insan-insan sepi

risau yang mendekam cukup
merubah cuaca saat ini
tak perlu kau rasakan dinginnya
tak usah terlalu hanyut didalamnya

sebab...

masih ada esok
tempat waktu melewatinya.


 (82)

DERAJAT CINTA

tanpa pikir panjang ku katakan 


aku mencintaimu

bagaimana tidak
cairnya ketakutan dalam diri ini
hanya karena aku memandangmu
lalu perasaan bercampur dalam darah 

berjalan antara sadar dan tidak sadar

kutemukan namamu

terpahat dalam tulang
terukir dengan bahasa

lihatlah cinta
atau perlu kau robek-robek
daging ini dengan egomu
agar kau lebih tahu
derajat cintaku

titik didih kah...?


(83)

PALSU

denyut jantung memompa lirih 

nada jangkrik dibalik tembok sunyi
berirama sahut-sahutan
mengusir segala macam resah
yang teringat akanmu

disini dimalam ini
dan pada setiap detiknya 

aku hargai sebuah sajak indah
mengalir terus tanpa henti
dari bawah rimbun bukit harapan

cernalah syair yang keluar dari cintaku
hingga sulit mengungkapkan
kata pujangga terpendam jauh
sampai mutiara hati rindu 

merangkul kesunyian
kunang-kunang yang sembunyi 

di balik ilalang isyaratkan keindahan

bercahaya aku mampu mengagumimu
lain kali kugapai hatimu



(84)

RIUH

ya Rasul

setelah getar kemanusiaanku
di panas jalanan tercecer

wajahku

aku temukan menjadi thagut
yang tercabik tajam pedang ibrahim
lalu tangisan menjadi teriakan
hiruk pikuk perang badar

ruhku terkapar di kaki bukit uhud

perih


senyap


dan kalah.


(85)

TUHAN II

berarti bukan tak berarti
disanalah terkumandang
hiruk pikuk gelombang
terbakar manjadi serpihan 

puing-puing jagad

Tuhan

kau cahaya
kilaumu menembus jaman
jejak-jejak tapak terikuti
sampai tanah-tanah
gersang tak bertepi

sedang aku nyenyak
dimalam berkepanjangan.


(86)

SUNGGUH

pulau kapuk menjadi saksi
desahmu memanggil namaku
rintihan darah segar membalut
akar merobek kulitmu
disela semak belukar

sungguh menguras keringat
tak puas bersimbah resah
langkahmu mengayun tanpa lelah
meliuk-liuk menyusupi bukit
diatas jalan becek berlumpur
kau terjebak kawah belerang

sungguh mandi menikmati disini 

hangat tempat kita bercinta

(87)

TANGISAN

rangkaianku berupa
tulang dan darah
jantung ini rajutan akar
irisan daging dan kulit

menutupi busuknya hati
berpijak diatas tangisan

bertemanlah denganku
sebab taring ini 

dahaga akan rasa

(88)

TUNGGU

sebelum matahari tergelincir
saat berdiri di tepi jurang
dengan perasaan cadas

aku kan terbang bersama elang 

menyusuri sungai kecil nan jernih

tunggu saat yang ku tunggu...!


(89)

AYAH

kau biarkan aku terpasung jaman
berdiri di permadani keabadian
hanya tertutup kain usang
waktu terasa maya
disela nyanyian kehidupan

Ayah

kau termangu
patahkan jiwa kebenaran
 

sedang aku

terpampang dihadapanmu
bagai pengembala domba

yang terjaga dari tidurnya

(90)

SAJAK NELANGSA

lukisan dipunggungku
wajah gembel yang terkapar
di bukit uhud

cemeti menoreh wajah
busur panah mata besi panas 

taburi tinta emas

aku puas menggendongnya
sampai kubur
tempat ia bersahaja 


dan tuliskan pula dada ini 
dengan sajak nelangsa
yang terbata dari lisannya

selamat tinggal pujangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar