Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


 (61)

RAPUH

masih tak mengerti
kereta yang terhenti

diufuk barat
membawa diri kedalam

jiwa yang kosong
ziarahi nisan sendiri
memerah diterpa matahari
saat kerudung hitam usang
tertelan waktu beranjak
di stasiun penghabisan
rapuh diatas kubur sendiri


(62)

PAGI

diri datang sebagai embun
menetes teresap pada syaraf 

kesadaran

tapi...

sebelum betul-betul terjaga
diri pun telah hilang dihisap
matahari jakarta

ah...

begitu sepinya rindu

dalam diri.

(63)

MATA TINTA

nafas sajak terhenti diruang hampa
ketika elang keperaduan tanpa induknya
haruskah menumpahkan tinta
atau air mata sebagai tanda

belasungkawa?

takdirku takdirmu satu
yang harus berdiri menegakkan
langit-langit kehidupan

terbanglah sejauh kau
mencari tahu siapa dirimu
biar aku amati dari titik
datar belahan ujung dunia


(64)

SEPERTI BIASA

dia datang tinggalkan kata


apapun bentuknya 
apapun hasilnya
tetaplah berkarya

seperti biasa


dia pergi begitu saja

(65)

HUJAN

disengatan matahari
awan hitam belum menjenguk
membawa kabar gembira
debu berterbangan merayu pandang
kuusap dengan timang kasih sayang

kau memohon padaku
hujan air mata sampai ujung fatamorgana


(66)

IBU

sejak pagi kau berdoa
jasamu berbalas keringat dosa
yang kuperas
cinta buah hatimu lebih panas
menghujani ruh menembus kalbu
tapakku memerah bersama cinta
batinku mendidih bercampur doa


kubertahan 

angin selatan dan utara
hanya lelah sampai raga tak berdaya

Ibu...

air matamu jatuh berderai
membasuh sepasang kaki hina


(67)
KHAYAL

usai kutelusuri 

kututup kembali
untukku abaikan 

perduli tentangmu

kau hanya angan.


(68)
ALAM

dinafasku masih ada namamu
mengalun bagai sebuah sajak
berirama disekap gerakku
dirimu berlalu diwaktu
angkuh memisahkan putik
dari tangkainya

wahai alam...

temanmu kesunyian

dibalik kicau burung bersenandung
mengiringi fajar belajar berdiri

hangatkan bunga-bunga
mekar berseri

sedang malam sembunyi
mengintai hilang
saat mentari terlena

dibalik awan hitam

dinafasku
kau siang dan malam.


(69)

RUNTUH

dunia pecundang

runtuh dikaki lapuk
terbawa angin lalu
pelita pun padam
dari orbit kekalahan
bertahun-tahun melayang
tak bertumpu
berputar tanpa jemu
duniaku kini runtuh


(70)

TERDAMPAR

dimana pun aku terdampar nanti
pastikan kau menemani
mengiringi ruh teman sejati
melewati bentuk

untuk kau dekap terakhir kali
kan kupandang kasih sayangmu
merangkulnya hingga ku tenang
dalam senyum milikmu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar