Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


(41)

TERBELAH

wahai penabur bintang
kau cahaya
kiranya mampu mengetuk malam
upaya hati memecah gegelapan
berjuta butiran api
hujan rindu
yang sirna terhempas angin lalu
inilah pertemuan

ingatlah gempita itu kawan
yang dulu kau letakkan dijemarimu
yang dapat kau lempar
setinggi yang kau mau

masa itu...

dimana sapa menggema
semarak canda diatas cinta

dimana...

dimana kawan?

semua kini hangus
terbang bersama asap kepunahan
dan kedewasaan membawamu
tinggalkan kenangan
yang hadir menjadi kilau
setitik terang tiba-tiba menghilang
redup diantara bintang

aku...

kini tergilas waktu
yang angkuh tak bertumpu
namun sang cakrawala
selalu mengamati
dari titik sepi ujung dunia


(42)

NESTAPA

menyilaukan
seperti musuh dihadapan
gemetar selaput
pejamkan keberanian
tubuh mewakili
jantung degup terakhir
saat nafas dihembuskan

beban hati selalu bertambah
bungkuk pundak
tak mampu menahannya
dikala tiang-tiang kosong
dan rongga lapuk
harapan yang tak kunjung datang


(43)

GELISAH

antara dua
dalam satu jiwa
khianat menigikis
siang bercahaya
yang percaya sepenuhnya
lilin api menyala
menjadi asap hati
hangus menodai awan putih

kau...

lihatlah jemarimu
sebatang janji melingkar
sekilau cinta mata berlian
menyaksikan
jangan kau lukai jari
dengan sebilah pisau memisahkannya

bersabarlah...

hanya itu kunci
tak seorang pun tahu.


(44)

TAPI

masih ada esok hari
tak perlu khawatir
untukmu hari ini

tapi...

nikmati cara
keluh dan kesah
sebab hanya itu
takdir yang singgah


(45)

SALAH

saat merasa menyentuh
itulah gerak
sebagai maksud ingin

bila salah anggap
atau menolak menerima
berarti bukan memandang

sebagaimana yang dimau.


(46)

SEJUTA RASA

nyanyian hati
tertunduk
diatas batu
membuka
untuk sinar
siang hari


(47)

LEPAS DAHAGA

seteguk dahaga
resapi luka
menunda singgasana
membuai bahagia

tidur canda
gelegak rintih seketika
menanti tak pasti
bungkam alam raya


(48)

DI UJUNG SENJA

kebekuan hati
terduduk disamping jiwa
ketika angin bertiup
dingin
menjadi kesejukan
sepai-sepoi
menghantar
lesunya terurai
helaian mulai putih
menunggu senja tenggelam
bongkahan yang tersisa
disandarkan
melepas garam untuk cair
bersatu di laut


(49)

AMARAH

tak terkendali
hantam kesabaran
terendam sunyi
sekejap mata

tak satu pun
indah

tak satu pun
tergugah

tak puas.


(50)

KOMA

indah hari merenung
di pagi ini
terjebak kata-kata mutiara
berbisik dari mimpi dia
tiada
ingin kuterbang melayang
diatas samudera luas
terbentang
susuri laut biru
lalu menepi di dermaga
kesedihan hati

yang...

ingin kau kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar