Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


(71)

ADA APA DENGAN HARI ESOK

kembali pulang kemasi cerita
yang semakin berlumut
canda tawa pun semakin laduh

setelah pesta usai
 

ada yang hilang ada yang tertinggal
tanda tanya purba yang terus memburu

ada apa dengan hari esok?

setelah pesta usai
 

esok terdapati matahari 
yang semakin gemetar
merah jingga diufuk barat

ada apa dengan hari esok?

nyatanya telah menjadi masa lalu
masa kini telah menjadi milik
anak cucu kita


(72)

BUNGA

sehelai rambutmu ku petik
ku jadikan hiasan tembikar liar
memerah dibawah asuhan
dikejauhan sinar pagi
sambutlah hangatnya
membantu kau perlahan

mekar.


(73)

MARAH

angin kecil salah arah

waspadalah...

burung gereja senyum merekah
diujung bibirnya dunia berdarah

menjauhlah...

jangan hanya pasrah
tertipu rayuan wajah...
yang dikakinya para semut
menggrogoti mencari celah

ingatlah...!

jalan itu jalur merah


(74)

LEPAS

nestapa seribu benak
melayang di awang-awang
hujan sore melelehkan
untuk lepas
beranjak dari jasad lapuk
tinggalkan kepompong
berpadu tumbuh dilaut biru
memantul cahaya putih
ringankan cagar raya
bertambah baru


(75)

TUHAN

aku pun berangkat
dari keputusasaan untukmu
setelah sekian lama hatimu
melekat dalam sanubari ini
inginnya ku bertemu

Tuhan...

langkah yang kurasakan
terbebani perasaan enggan
mampukah ku tersenyum sebagai
pecundang dihadapnya nanti

maaf...

aku tak sehebat inginmu.


(76)

CINTA TAK TERBACA

akulah pendaki cita
dan cinta
dalam gurun seribu
mengarungi setiap hati
dilembah bunga tersinggahi
setiap mata menjadi alur tinta
yang haus bait cinta
namun akulah mata hati


tak terungkap
tak sembunyi
tak terbaca


(77)

KENYATAAN

tak ada yang bisa dipetik
pada indahnya malam
cinta tak mampu gapai
isi retinamu
dahan sebatang kara
tak berbuah
tak ada asa meleburnya
lahaplah kenyataan
cerna kehidupan
dan mengerti maksud
yang kau telan


(78)

SELALU SELAMANYA

seandainya dia mengetahui
aku jenuh
aku akan bawa cintanya
bukan kebencian

setelah sekian lama bersama 
tak mampu menahan kata
selalu selamanya
 

ikrar telah jatuh 
sia-siakan perasaan
namun lebih banyak berarti
dibanding kata-kata pisah

tak bersatu
itulah ketentuan
kau tak bisa kuhapus 

begitu saja

waktu.


(79)

MALAM II

hembusan angin 

senang beranjak dari telinga
gemuruh jiwa menghantam

malam...

kau pukul batinku
dengan cahaya rembulan
tirani menyibak tabir
bahwa aku telah mati
dalam pelita kehidupan


(80)

GENGGAM DUNIA

kedewasaan membawamu
tinggalkan kenangan
padahal apa yang kau lalui
itulah yang membentukmu saat ini


genggaman pertama
menghirup udara pagi
sebagai keyakinan
sesungguhnya kau mampu
menggenggam dunia
untuk kau letakkan diantara
jemarimu sebagai mainan
yang dapat kau lempar
setinggi yang kau mau


ingatlah gema kebahagiaan
disela tangis
hiruk pikuk insan memandu
melangkah melewati garis 

tangan terkepal waktu itu 
hari dimana kini 
kau tersenyum lugu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar