(101)
LARA
jika malam kau
peruntukkan bagi kebisuan
lalu kidung sunyi menyentuh
sendu bersama lara
sekejap saja terlena pada tepi
maka gundah yang tersimpan
mulai hilang walau telah terkunci
rapat
melalui pori setitik
celah itu tak lagi kau buka
bila kisah lama yang menggores
membekas pada harimu
sebab beban tertinggal
bukan memberati namun
lebih meringankan hari
(102)
TAK TAHU DIRI
terpikat kepada “sang putri”
tak direstui “sang istri”
berang dan sakit hati
mengatur siasat diri
pergi ke dukun sakti
akankah dapat meminang “sang putri”…?
ataukah diri ditalak “sang istri”…?
(103)
REVOLUSI BELUM MATI
mawas diri
makar terus terjadi
menekan lewat aksi
revolusi…
akankah terjadi?
(104)
AMBISI SANG PENGUASA NEGERI
seratus juta manusia
mengepung ibukota negeri
“perang” berlarut-larut
strategi membuat frustasi
tak sedikit
yang menyerahkan diri
semua hanya ambisi
sang penguasa negeri
(105)
MASA TRANSISI NEGERI INI
apa yang terasa
tidak jelas
hampir semua kalangan
apalagi rakyat jelata
terbiasa merusak dan menilai
reformasi tanda tanya
akan masa depan
bagaimana tidak
situasi politik
ekonomi dan budaya negeri ini
semakin tak pasti
(106)
TAK PASTI KAPAN
mahasiswa yang sarjana
keluar dari status pengganggur terdidik
tak pasti kapan
harga bahan bakar minyak
listrik dan air bisa stabil
tak pasti kapan
konglomerat hitam bisa ditangkap
tak pasti kapan
biaya sekolah yang terjangkau
tak pasti kapan
budaya lokal mendapat ruang
yang lebih luas untuk berkembang
semakin tak pasti.
(107)
ENTAH
setelah masa transisi ini
rakyat mengalami disorientasi masa depan
misi dari mengubah dunia
menjadi sekedar mengubah kata-kata
masa ini sebagai fase transisi
dari otoritarianisme
entah menuju kemana...?
(108)
JAKARTAKU JAKARTA KITA
gumpalan benang kusut itu
belum sepenuhnya terurai
kawasan resapan air
dibangun pertokoan
apartemen atau real estate
musibah banjir
wujud tata kota tak proporsional
tak melihat dampak lingkungan
gambaran hidup kota Jakarta kini
kriminalitas tumbuh subur
kemiskinan merata
kemacetan merajalela
angka pengangguran tinggi
problematika sosial kota Jakarta
menghanyutkan jiwa.
(109)
ONANI INTELEKTUAL
hanya bicara
terjebak “verbalisme”
hanya bertindak dan beraksi
menghantam jurang “aktivisme”
sinergi kekuatan berfikir
berbicara dan bertindak “praksis”
lingkar fikir
refleksi
aksi
bentuk kesadaran kritis
realitas sosial
realitas itu sendiri
onani intelektual
(110)
ANTI DEMOKRASI
masih menyelimuti sebagian rakyat
berharap perubahan dari “atas”
bukan “dimandirikan” rakyat sendiri
kesadaran “naïf” rakyat
menerima situasi ini
sebagai sesuatu yang “given”
produk kekuasaan “anti rakyat”
dan “anti demokrasi” masa lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar