Senin, 12 Agustus 2013

Catatan Penyair Keder


(101)

 LARA                   

jika malam kau
peruntukkan bagi kebisuan
lalu kidung sunyi menyentuh
sendu bersama lara
sekejap saja terlena pada tepi
maka gundah yang tersimpan
mulai hilang walau telah terkunci
rapat
melalui pori setitik
celah itu tak lagi kau buka
bila kisah lama yang menggores
membekas pada harimu
sebab beban tertinggal
bukan memberati namun
lebih meringankan hari


 (102)

TAK TAHU DIRI

terpikat kepada “sang putri”
tak direstui “sang istri”
berang dan sakit hati
mengatur siasat diri
pergi ke dukun sakti

akankah dapat meminang “sang putri”…?

ataukah diri ditalak “sang istri”…?


 (103)

REVOLUSI BELUM MATI

mawas diri

makar terus terjadi

menekan lewat aksi

revolusi…

akankah terjadi?


 (104)

 AMBISI SANG PENGUASA NEGERI

seratus juta manusia
mengepung ibukota negeri
“perang” berlarut-larut
strategi membuat frustasi
tak sedikit
yang menyerahkan diri
semua hanya ambisi
sang penguasa negeri


 (105)

MASA TRANSISI NEGERI INI

apa yang terasa
tidak jelas

hampir semua kalangan
apalagi rakyat jelata

terbiasa merusak dan menilai
reformasi tanda tanya
akan masa depan

bagaimana tidak

situasi politik
ekonomi dan budaya negeri ini
semakin tak pasti


 (106)

 TAK PASTI KAPAN

mahasiswa yang sarjana
keluar dari status pengganggur terdidik


tak pasti kapan
harga bahan bakar minyak
listrik dan air bisa stabil

 tak pasti kapan
konglomerat hitam bisa ditangkap
 tak pasti kapan
biaya sekolah yang terjangkau
 tak pasti kapan
budaya lokal mendapat ruang
yang lebih luas untuk berkembang

 semakin tak pasti.

 (107)

 ENTAH

 setelah masa transisi ini

rakyat mengalami disorientasi masa depan
misi dari mengubah dunia
menjadi sekedar mengubah kata-kata
masa ini sebagai fase transisi
dari otoritarianisme

entah menuju kemana...?


 (108)

 JAKARTAKU JAKARTA KITA

 gumpalan benang kusut itu
belum sepenuhnya terurai
kawasan resapan air
dibangun pertokoan
apartemen atau real estate

musibah banjir
wujud tata kota tak proporsional
tak melihat dampak lingkungan

gambaran hidup kota Jakarta kini

kriminalitas tumbuh subur
kemiskinan merata
kemacetan merajalela
angka pengangguran tinggi

problematika sosial kota Jakarta

 menghanyutkan jiwa.

 (109)

ONANI INTELEKTUAL

hanya bicara
terjebak “verbalisme”

hanya bertindak dan beraksi
menghantam jurang “aktivisme”

sinergi kekuatan berfikir
berbicara dan bertindak “praksis”

lingkar fikir
refleksi
aksi

bentuk kesadaran kritis

realitas sosial
realitas itu sendiri

onani intelektual


 (110)

ANTI DEMOKRASI

masih menyelimuti sebagian rakyat
berharap perubahan dari “atas”
bukan “dimandirikan” rakyat sendiri

kesadaran “naïf” rakyat
menerima situasi ini
sebagai sesuatu yang “given”

produk kekuasaan “anti rakyat”

dan “anti demokrasi” masa lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar