Senin, 12 Agustus 2013
Catatan Penyair Keder
(31)
MAKRIFAT
sempurna terisap dalam
selamanya
tak punya tingkah
dan laku
tak punya kehendak
apa-apa
tlah menjadi buta
tuli
bisu
dan lenyap perasaannya
gerak
tingkah dan laku
bagaimana Sang Pencipta
(32)
TERJEPIT
kaku tak bergerak
diam tak berkata
tak tentu
kemana akan menuju
terikat waktu
tertindih
bongkahan derita
digelapkan awan pekat
tak bersuara
tersumbat hujan lebat
tak mengapa
yang terjadi
biarlah terjadi
(33)
ASA
nikmatnya memakan roti
terkunyah perlahan
sampai terasa keju didalamnya
terhirup
tertelan
ah...
enaknya hari ini
segera mengulangi
dengan menggigitnya
(34)
PELUH
air kemalangan menghujani
para pelukis rinai gerimis
setipis langkahnya mengubah
dibuatnya pelangi diantara gedung
diwaktu sendu
buram corak kemurungan
menempel pada kanvas
melekat dalam hati bingung
menjadi garis banjaran
goresannya adalah petunjuk
segenggam warna kehidupan
(35)
SELAYANG PANDANG
bunga-bunga mempesona
tampakkan warna-warni
terbias cahaya
memantul penuhi alam raya
apalagi bila usai terguyur
hujan semalaman ia pun
semakin segar dikala fajar
menyingsing dibalik jendela
mengintai dikejauhan
lau sang angin
mengipaskan
menghantarkan
harumnya berjalan-jalan
menggoda makhluk apapun
untuk memikat hati
setiap rasa yang merindu
untuk memiliki
(36)
GERAK HARI
ragu...
menerawang masa depan
padahal...
masa yang tak tersentuh
walau terjelajahi dalam mimpi
namun mengganggu
seperti mengekang gerak maju
hari ini...
jasadku...
mencari hayal yang terbang
diwaktu esok
entah mengapa
entah apa...
yang sembunyikan itu
disaat kabut mata hati
turun dibalik jiwaku
(37)
PARADE
bubuk emosi
kau tebar dipersimpangan
keraguan membakarku
pedih...
semudah itu bersanding mata
secepat itu kau lerai
perang batin sembilu
bendera putih menghantui
air mata memanggil
coba padamkan
batu membara
namun hatiku hangus
saat tersudut
khianat cinta...
satu kata untukmu
menjauh.
(38)
TAHUN BARU
apa artinya hadirmu?
jika percikan masa lalu
masih panas membekas
mengajakku berlari
menyambut malam
penuh kembang api
hiasi langit penuh warna
wahai malam akhir...
mestinya perlu ingatkanku
yang sedang tergilas
oleh detik-detik problema
dengan umurmu
bersyukurkah?
(39)
KELAM
melupakan terangnya pagi
merindukan cahaya bintang
bulatan cakrawala
menjadi pusaran mimpi
berdiri bagai burung gagak
bersuara menunggu malam
butiran air sebening kristal
pada ujung sayap kekuasaan
jatuh berderai sebagai tangisan
dipenghujung malam
(40)
PETUAH
sesaat bumi berguncang
menggeser gelisah
kewadah bahagia
badai teriakan air mata
menetes diatas haru
sulit satukan jiwa
dua yang berbeda
menjadi satu
wahai anakku...
cepat kemari
kubisikkan sesuatu
untuk kau bawa
sampai kembali tak berbaju
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar